Karya Misi Kepausan (The Pontifical Mission Works) atau disebut Serikat Misi Kepausan (The Pontifical Mission Societies) atau lebih dikenal dengan istilah yang lebih singkat saja Karya Kepausan adalah lembaga yang membantu tugas Bapa Paus  yang  secara struktural berada di bawah Kongregasi Suci untuk Evangelisasi Bangsa-bangsa (Sacred Congregation for Evangelization of Peoples).

Prefectur Kongregasi Suci untuk Evangelisasi Bangsa-bangsa (Sacred Congregation for Evangelization of Peoples) saat ini adalah Ivan Kardinal Dias, sedangkan presiden untuk Karya Kepausan (The Pontifical Mission Societies) adalah Msgr. Piergiuseppe Vacchelli. Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, presiden Karya Kepausan (The Pontifical Mission Societies) dibantu oleh empat Sekretaris Jenderal yang  membawahi serikat-serikat yang ada di bawahnya.

Empat serikat yang ada di bawah Karya Kepausan (Pontifical Mission Societies), yaitu :

•1.      Serikat Kepausan untuk Pengembangan Iman (The Pontifical Society for the Propagation of Faith), didirikan oleh : Pauline Marie Jaricot (1799-1862). Sekretaris Jenderal Serikat Kepausan untuk Pengembangan Iman saat ini adalah : Msgr. Timothy Lehane, SVD

•2.      Serikat Kepausan St. Petrus Rasul untuk Promosi Panggilan (The Pontifical Society of St. Peter Apostle), didirikan oleh seorang ibu dan anak gadisnya: Stephanie dan Jeanne Bigard (1859-1934). Sekretaris Jenderal Serikat Kepausan St. Petrus Rasul saat ini adalah : Msgr. Jan Dumon

•3.      Serikat Kepausan Anak/Remaja Misioner (The Pontifical Society of Missionary Childhood /The Holy Childhood), didirikan oleh : Mgr. Charles de Forbin Janson (1785-1844). Sekretaris Jenderal Serikat Kepausan Anak/Remaja Misioner saat ini adalah : Msgr. Patrick Byrne, SVD

•4.      Serikat Kepausan Imam/Religius/Awam Misioner (The Pontifical Missionary Union), didirikan oleh : Paolo Manna, PIME (1872-1952), Sekretaris Jenderal Serikat Kepausan Imam, Religius, Awam Misioner saat ini adalah : Msgr. Vito del Prete, PIME

Tiga serikat yang pertama yaitu : Serikat Kepausan untuk Pengembangan Iman (The Pontifical Society for the Propagation of Faith), Serikat Kepausan St. Petrus Rasul untuk Promosi Panggilan (The Pontifical Society of St. Peter Apostle), dan Serikat Kepausan Anak/Remaja Misioner (The Pontifical Society of Missionary Childhood /The Holy Childhood), mendapat status kepausan pada tanggal 3 Mei 1922, sementara Serikat Kepausan Imam/Religius/Awam Misioner (The Pontifical Missionary Union) mendapat status kepausan pada tanggal 28 Oktober 1956. Status kepausan telah mengangkat status serikat-serikat itu, dari serikat lokal menjadi serikat yang bersifat internasional langsung di bawah kewenangan (yurisdiksi) Bapa Paus.

Tujuan keempat serikat ini secara umum adalah membangkitkan kesadaran dan tanggung jawab misioner dalam hati setiap umat Katolik yang terbaptis, sehingga umat memiliki kepekaan terhadap kepentingan karya perutusan Gereja secara Universal.

Di setiap negara atau gabungan beberapa negara kecil, terdapat Biro Nasional Karya Kepausan yang menjalankan fungsi yang diemban oleh Pontifical Mission Societies. Setiap Biro Nasional Karya Kepausan dipimpin oleh seorang Direktur Nasional (Dirnas).

Karya Kepausan di Indonesia (KKI) mulai hadir setelah Perang Dunia I, pada tahun 1919. Pada saat itu Indonesia masih berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda (Nederlands Indie) sehingga Karya Kepausan Indonesia masih bergabung dengan Karya Kepausan Negeri Belanda.

Selama kurang lebih lima dasawarsa Karya Kepausan Indonesia tidak dapat berkembang dengan baik, antara lain karena saat itu negara kita sedang dalam masa penjajahan Belanda, yang kemudian dilanjutkan oleh penjajahan Jepang. Perhatian Gereja dan Bangsa Indonesia saat itu lebih terfokus pada perjuangan kemerdekaan dan setelah kemerdekaan perhatian terfokus pada pemulihan dan pembenahan keadaan dalam negeri.

Pada tahun 1970-an dapat dikatakan Karya Kepausan Indonesia mulai bangkit kembali dengan menggunakan nama Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia atau dalam hubungan dengan dunia Internasional digunakan istilah National Office of The Pontifical Mission Societies of Indonesia.

Dalam sidang MAWI (sekarang KWI) tanggal 22 November - 4 Desember 1971, para Uskup Indonesia mengakui keberadaan Karya Kepausan yang mengemban tugas untuk membangkitkan kesadaran dan tanggungjawab misioner di dalam hati umat Katolik Indonesia. Sejak itu Karya Kepausan Indonesia mulai diperkenalkan ke Keuskupan-keuskupan di seluruh Indonesia.

Para Direktur Nasional yang pernah memimpin Karya Kepausan Indonesia adalah :

1.      R.P. H. Bastiaanse, SJ ( ... - 3 Juni 1971)
2.      R.P. Diaz Viera, SVD (1972 - 1982)
3.      R.P. Theo Tidja Balela, SVD (1984 - 1993)
4.      R.D. Petrus Turang, Pr (1993 - 1998)
5.      R.D. Th. Terry Ponomban, Pr (1988 - 2003)
6.      R.P. Patrisius Pa, SVD (2003 - 2009)
7.      R.P. Romanus E. Harjito, O.Carm (2009 - ...)

Karya Kepausan Indonesia adalah bagian dari PONTIFICAL MISSION SOCIETIES atau SERIKAT-SERIKAT KEPAUSAN MISIONER, yang merupakan karya-karya utama melalui mana Gereja Universal, bersama Gereja Lokal dan segenap umat beriman dapat memenuhi tugas dan tanggung jawab misioner mereka.

Karya Kepausan Indonesia adalah organisasi internasional guna membantu Gereja-gereja yang sedang berkembang dalam mengambil bagian dalam karya misi dan evangelisasi Gereja semesta.

Konsili Vatikan II, menginginkan bahwa semua Serikat Karya Kepausan menduduki tempat sentral dalam kerjasama misioner : "Seyogianya karya-karya ini mendapat tempat yang pertama. Sebab, mereka merupakan alat, karenanya orang-orang Katolik sejak kecil mendapat pandangan benar-benar universal dan misioner serta giat mengumpulkan dana secara efektif bagi semua daerah misi, masing-masing menurut kebutuhannya." (AG 38). Dengan menjadi alat resmi dari semua Gereja untuk kerjasama misioner, maka Karya Kepausan menjadi lebih penting daripada sebelumnya.

Dipimpin langsung oleh Paus Yohanes Paulus II dan masuk dalam Kongregasi suci untuk Evangelisasi Bangsa-bangsa [Propaganda Fide] yang dipimpin oleh Prefeknya: YM Kardinal Cresecensio Sepe. Pelaksanaan hariannya dipimpin oleh Sekretaris Pelaksana sekaligus presiden karya-karya kepausan : Mgr. Charles Schleck.

Karya-karya Kepausan mencakup :

  1. Pontifical Mission Society for the Propagation of Faith atau Serikat Kepausan untuk Pengembangan Iman. Pendirinya : Pauline Marie Jaricot (1822).
    Sekretaris Jenderal Serikat Kepausan untuk Pengembangan Iman : Mgr. Bernard Prince.
  2. Pontifical Mission Society of the Missionary Childhood atau Serikat Kepausan Anak/Remaja Misioner (Sekami). Pendirinya : Mgr. Charles Forbin Janson (1843).
    Sekretaris Jenderal Serikat Kepausan Anak/Remaja Misioner : Rev. Patrick Byrne.
  3. Pontifical Mission society of St. Peter the Apostle atau Serikat kepausan St. Petrus Rasul (untuk Pengembangan Panggilan Pribumi). Pendirinya : Stephanie dan Jeanne Bigard (1889).
    Sekretaris Jenderal Serikat Kepausan St. Petrus Rasul/Panggilan : Mgr. Jose A. Galvez.
  4. Pontifical Missionary Union atau Serikat Kepausan Klerus dan Awam Misioner. Pendirinya : P. Paolo Manna (1916).
    Sekretaris Jenderal Serikat Kepausan Imam, Religius, Awam Misioner : Rev. P. Fernando Galbiati, PIME

Tujuan pertama dan pokok serikat-serikat ini bersama-sama ialah mengembangkan semangat misioner universal di dalam hati umat Allah. Dalam mengusahakan tujuan ini, ketiga serikat yang pertama menghimbau Umat Allah untuk mengungkapkan motivasi misioner mereka melalui kerjasama dengan karya penyebaran iman, baik di bidang spiritual maupun di bidang material. Mereka menciptakan dasar solidaritas yang bersifat sentral untuk membiayai program bantuan universal. Serikat yang ke empat langsung bertujuan mendidik misionaris dan membuat orang sadar akan karya misi. Ia tidak mengumpulkan sumbangan material apapun. Serikat-serikat ini merupakan pembantu-pembantu utama Paus, Gereja semesta, dalam mengemban tugas misinya.

Bahwa serikat-serikat ini, yang diangkat menjadi serikat kepausan, langsung di bawah naungan Paus, adalah bukti betapa Karya Kepausan Misioner ini sungguh 'alat'
Gereja semesta dan mengabdi pada kebutuhan Gereja semesta. Karya-karya kepausan ini berada untuk membantu para Uskup Gereja lokal di setiap negara, di setiap keuskupan bahkan di setiap paroki. Kendati terdiri dari 4 serikat berbeda tetapi mereka memiliki satu kesamaan dalam semangat.

Secara sangat kongkrit bantuan itu diberikan baik secara 'spiritual and material' . Secara spiritual, melalui dukungan doa harian, kurban-kurban ekaristi termasuk juga pengorbanan diri dan penderitaan/sakit yang ditanggung dengan sukarela demi kesuburan karya misi di seluruh dunia. Secara material, melalui pengumpulan dana dan derma dalam bentuk apa saja; ada yang secara tahunan pada kesempatan Hari Minggu Misi atau Panggilan; ada yang secara bulanan sebagai penderma tetap. Sumbangan dan dukungan material juga dinyatakan lewat pengadaan fasilitas yang dibutuhkan untuk menunjang karya misi Gereja di seluruh dunia.

 

 

 

 
 

 

Kembali ke atas

 
 
 
   
Copyright©Kawali.Org 2001-2002